Feeds:
Posts
Comments

Natal, Skandal

Saya : Bos, skandal skandal apa hayo yang bukannya dijauhi tapi malah disukai orang?
Bobos : (Setelah berpikir sejam lamanya) Nyerah deh Mas, nggak tau. Skandal apaan sih?
Saya : Skandal jepit! Buktinya kamu pakai dan saya juga pakai sekarang.
Bobos : Itu sandaaaal….. Mas.
Saya : Namanya juga tebak-tebakan. Nggak usah dipikirin serius, dia memang gitu orangnya.
Bobos :??????????????

Barusan sebelum menulis ini saya sempat browsing di mbah gugel, mencari definisi kata ‘skandal’. Dari situs http://www.artikata.com saya dapat pencerahan bahwa arti skandal itu adalah suatu peristiwa yang memalukan, yang dapat mempengaruhi harkat martabat seseorang. Hmm, sudah saya duga bahwa definisi yang diberikan tidak jauh beda dengan apa yang sudah lama ada dalam pikiran saya selama ini.
Dulu waktu masih mahasiswa (semoga Anda percaya bahwa saya pernah kuliah juga), saya pernah menemukan sebuah artikel yang judulnya sangat provokatif. Artikel itu dimuat di majalah TEMPO di tahun 1980-an, tahun pastinya saya lupa. Saya lebih suka mengingat ulang tahun saya sendiri, ketimbang mengingat tahun persisnya artikel itu dimuat TEMPO. Tapi saya ingat nama penulisnya: Ignas Kleden. Saya tidak menjamin Anda familiar dengan nama yang barusan saya tulis. Wong saya juga nggak tahu (saat itu). Nah judul daripada kolom itu: “Pada Mulanya Natal Adalah Sebuah Skandal”.

Sebagai seseorang yang kolom agama di katepenya diisi Kristen, saya terprovokasi. Apakah ini bentuk penghinaan untuk orang Kristen? Tapi masak majalah sekaliber TEMPO mau memuat tulisan yang menghina? Karena terprovokasi, saya lalu membacanya. Maka demikianlah. Saya baca dan saya fotokopi tulisan itu. Saya baca terus, berulang kali, dan akhirnya ngerti juga nggak. Itu memang skandal, bagi saya. Tapi saya jujur mengakuinya pada Anda.

Ignas menulis bahwa Natal mulanya adalah sebuah skandal. Mengapa? Karena Maria, yang masih berstatus perawan, tiba-tiba didapati mengandung anak dalam rahimnya. Yusuf, tunangannya sempat kecewa berat, karena dia sama sekali belum mengapa-apakan si Maria ini. Tapi akhirnya Yusuf mau menerima kenyataan itu, setelah malaikat Tuhan memberitahu bahwa yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus. Bukan benih Yusuf, apalagi cowok lain. Anak itu nantinya akan menjadi Juru Selamat, Raja yang akan membebaskan umat Tuhan dari dosa. Berita kelahiran Anak tersebut menghebohkan. Herodes penguasa setempat merasa terancam, takut tahtanya tergusur. Maka skandal berikutnya muncul: pembantaian bayi-bayi di wilayah kekuasaannya. Kekuasaan harus dilanggengkan, dengan kekerasan dan kekejian jika perlu. Jadi dalam konteks inilah judul kolom Ignas di majalah TEMPO ketika itu.

Kelahiran Anak itu, yaitu Yesus Kristus Penebus, sekarang dirayakan oleh saya, keluarga saya, teman-teman seagama, dan seluruh umat Kristiani di dunia sebagai Hari Natal. Barangkali masih ada ‘skandal’ dalam konteks perayaan Natal oleh manusia modern di milennium ini. Natal sekarang sudah menjadi komoditas. Ia lebih identik dengan pesta, makanan berlimpah, sinterklas, suarterpit, salju, baju baru, pohon cemara berhias lampu, kue-kue, pelesiran ke luar negeri, hadiah-hadiah dan aneka rupa selebrasi yang sering tidak ada kaitannya dengan Natal itu sendiri. Banyak orang terjebak dalam selebrasi semu tanpa mau bersusah payah menggali hakikat Natal yang sejati.

Apakah saya anti dengan itu semua? Rasanya tidak. Saya bukannya sombong. Tapi setidaknya saya sudah pernah terbawa dalam arus selebrasi itu. Begitu Natal sudah di ambang pintu, saya pun langsung larut dalam aneka kesibukan sebagai panitia natal di gereja, di kantor, menyiapkan drama, merancang acara, memilih tanggal untuk belanja sama keluarga, memutuskan baju apa untuk dipakai ke gereja, kapan gladi resik untuk puncak acara, dan sebagainya dan sebagainya. Saya sering alpa untuk sejenak merenung kembali dan memaknai natal dalam arti yang sebenarnya. Memalukan sebenarnya. Sebuah skandal. Tapi itu saya. Saya percaya Anda para pembaca tidaklah berbeda.

Bobos : Mas, boleh nggak anak-anak saya ajak nonton bioskop? Ada filem bagus.
Saya : Boleh. Dengan dua syarat: Pertama, kamu yang bayar tiketnya. Kedua, pulangnya harus bawa donat Jeko buat orang rumah. Dil?
Bobos : (Setengah hati) Okelah, dil.
Saya : Emang filem apa, Bos?
Bobos : Filem baru Mas, judulnya Skandal-Skandal Ciliwung?
Saya : (Sewot) Boboos….itu bukan Skandal tapi ‘brandal’….beee-raaaan-daaaal….!
Bobos : Iyah tapi nggak usah sewot begitu Mas. Jadi skor kita sekarang satu sama ya.

Huh! Dasar skandal, eh brandal….

Desember 2012

Sully

Tanggal 15 Januari 2009. Sungai Hudson di Manhattan, New York yang airnya dingin membeku tampak tenang pagi itu. Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama karena sesaat kemudian, sebuah pesawat terbang berpenumpang 115 orang mendarat mulus di atasnya. Kesibukan luar biasa segera terjadi ketika para penumpang ditolong keluar dari pesawat oleh para penjaga sungai dan petugas medis yang datang dalam waktu sekejap.

Satu hal yang luar biasa adalah tidak ada korban jiwa dari peristiwa pendaratan darurat di sungai Hudson pagi itu. Para saksi mata menggambarkan bahwa pesawat mendarat dengan mulus di atas air sungai yang hampir membeku. Bahkan para awak penumpang tidak menyadari bahwa mereka telah mendarat dengan selamat di atas air.

Banyak pihak menilai itu semua tidak lepas dari kepiawaian Chesley ’Sully’ Sullenberger (60 th), pilot dengan jam terbang di atas 10.000 jam terbang yang menerbangkan pesawat Airbus 115 naas tersebut. Ketenangan yang luar biasa, disertai rasa percaya diri serta pengalaman panjang dalam menerbangkan pesawat, membuat Sully tetap dapat menguasai keadaan walaupun mesin pesawat mati setelah menabrak sekumpulan burung, tak lama setelah lepas landas dari bandara La Guardia, New York.

Menghadapi situasi kritis, keadaan yang terjepit, masalah yang berat, ataupun pergumulan yang berat menekan, terkadang yang dituntut dari kita adalah sikap tenang dan percaya akan pertolongan Tuhan.

Jika Anda sempat buka Alkitab dan melongok Perjanjian Lama, maka dalam Yesaya 30: 15 kita dapat menemukan ayat luar biasa yang berbunyi ” Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Hebat bukan?! Ternyata rumus utama menghadapi persoalan, pergumulan, prahara, badai dalam kehidupan bukanlah kepandaian, kekuasaan, kekayaan, atau koneksi. Melainkan cukup dengan tenang dan percaya, bukannya kalangkabut, empot-empotan tidak karuan dan nabrak sana tabrak sini.

Opa Sully telah membuktikan bahwa rasa tenang dan percayanya telah menyelamatkannya dan ratusan penumpang dari maut.

Don

Don Corleone, tokoh mafia Italia yang disegani, sedang berjalan bersama anak lelakinya, Don Vito, yang baru berumur lima tahun. Mereka berjalan menyusuri sebuah lorong dengan tembok tinggi di sebelahnya. Sesampainya di ujung lorong, langkah mereka terhenti karena ada tembok cukup tinggi yang menghalangi langkah mereka.

”Vito, coba kau panjat tembok itu,” pinta Don Corleone pada sang anak. ”Tapi Ayah, tembok itu terlalu tinggi. Aku tidak akan bisa memanjatnya,” jawab Vito kecil ragu-ragu.

”Kamu pasti bisa, Vito. Ayo, cepat panjat tembok itu,” Corleone menjawab keraguan anaknya. Dengan agak ragu-ragu, Vito kecilpun mulai memanjat tembok tinggi tersebut. Perlahan tapi pasti, kaki tangan kecilnya menggapai tiap celah di tembok untuk pegangan. Usaha kerasnya tidak sia-sia, beberapa saat kemudian Vito telah sampai diatas tembok.

”Ayah lihat, aku berhasil, aku sudah ada di atas!”, teriak Vito dengan gembira.
”Bagus Vito. Betul kan Ayah bilang bahwa kamu pasti bisa. Nah sekarang, coba kau lompat dari sana ke bawah sini.”

Vito heran dan takut. ”Lompat ke bawah? Bagaimana kalau aku terbentur batu dan berdarah nanti?”

”Jangan takut Vito, ayah akan menangkapmu. Kau percaya kan bahwa ayah tidak akan membiarkanmu terjatuh dan terbentur batu hingga berdarah?”

”Baik Ayah, aku percaya,” katanya dan sejurus kemudian Don Vito kecil segera melompat ke bawah dengan tangan terbuka untuk menangkap tubuh Ayahnya. Saat tubuh kecil itu jatuh ke arahnya, Don Corleone bergerak menghindar. Tak ayal lagi Don Vito terjerembab ke jalanan hingga kepalanya berdarah terbentur batu.

Sambil menangis keras Vito kecil berteriak marah, ”Kenapa Ayah tidak menangkap tubuhku tetapi malah membiarkan aku jatuh ke atas jalanan sampai berdarah, bukankah Ayah tadi bilang akan menangkapku? Ayah bohong!”

Don Corleone menatap wajah anaknya yang berlumuran darah tanpa ekspresi. ”Vito, ini pelajaran pertama buatmu. Di dunia yang kita hadapi, jangan pernah percaya kepada siapapun, termasuk kepada Ayahmu sendiri.”

Itulah ajaran yang berlaku di dunia mafia Italia. Makanya ya ndak heran, seperti tergambar dalam film Godfather, sudah jamak terjadi sesama saudara saling bunuh, ayah membunuh anaknya sendiri, bahkan sebaliknya anak mengangkat pistol menembak babe kandungnya. Sadis ih…

Kita beruntung sebab Bapa kita yang di Sorga tidak sama seperti bapa yang ada di dunia. Kita memiliki Bapa yang menentramkan hati kita dengan berkata ”Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKU yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41: 10). Tangan kanan berbicara tentang sesuatu yang kuat, yang baik, yang manis, yang layak dan yang besar.

Kita dapat sepenuhnya mempercayakan diri kita, kehidupan dan masa depan kita kepadaNya. Janji Tuhan adalah janji yang tidak terpatahkan, janji yang tak teringkari. Bapa kita di Sorga bukanlah seperti Don Corleone sang mafia, yang bahkan tidak dapat dipercaya oleh anaknya sendiri.

Naskah ini saya tulis untuk pementasan Easter Musical Concert tahun 2006 yang diadakan di Balai Sarbini, Jakarta. Sungguh merupakan pengalaman berharga dipercaya untuk menulis naskah drama musikal buat acara sebesar itu, yang menampilkan beberapa artis Rohani sekaliber Mawar Simorangkir, Nikita, Franky Sihombing, dan Joy Tobing.

Saat pementasan, naskah ini dimainkan oleh para mahasiswa teater dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan disutradarai seorang sutradara muda dari ANTeve.

DRAMA MUSIKAL PASKAH
“…, because of HIM …”

BABAK I
PENGADILAN YESUS

FRAGMEN 1. Di hadapan imam besar Kayafas

Pemain:
Yesus
Imam besar Kayafas
Tua-tua Yahudi
Ahli-ahli Taurat
Pengawal Bait Suci
Narrator

(Setting: Suasana pengadilan Agama Yahudi. Imam Besar Kayafas dan para imam kepala duduk di meja, menghadap Yesus yang kedua tanganNya terbelenggu. Di belakang Yesus, berkerumun tua-tua dan para ahli taurat. Agak jauh di luar ruang sidang, tampak seorang ahli taurat terlibat pembicaraan dengan pengawal.)

Ahli Taurat:
Bagaimana pengawal, sudah dapat belum orangnya. Kita masih perlu banyak saksi-saksi untuk memberatkan Orang Nazareth itu…

Pengawal:
Waduhh saya belum dapat lagi nih Rabbi…saya sudah keliling seluruh pelosok kampung sekitar sini untuk mencari tapi belum dapat juga orang yang mau bersaksi melawan Yesus. Tapi Rabbi, ngomong-omong nih, bukankah saksi-saksi palsu yang kita ajukan sudah sangat banyak? Masih belum cukup ya?

Ahli Taurat:
Ya begitu deh…! Banyak sih banyak, tapi kesaksian mereka pada ngaco semua, bertentangan satu sama lain dan nggak jelas. Kamu dapat di mana sih saksi-saksi kaya begitu hah?! (Berpikir sebentar) Kalau nggak ada lagi ya sudah…(melongok ke dalam) aku mau masuk dulu, sepertinya Imam Besar Kayafas sudah memulai sidang tuh!

Pengawal:
Baik, silakan rabbi. Saya akan berjaga di sini.

(Di ruang sidang, Kayafas sedang berdiri dekat Yesus untuk menginterogasi dan mendapat pengakuanNya.)

Kayafas:
Yesus, aku sudah hampir hilang kesabaran. Kamu sering tidak mau menjawab pertanyaanku, kalaupun menjawab, jawabanMu tidak jelas maksudnya. Nah sekarang aku akan mengajukan satu pertanyaan dan kali ini Kamu harus menjawabnya dengan jelas. Yesus, apakah Engkau ini Mesias, Anak dari Yang Terpuji?

(Suasana hening. Semua pandangan tertuju pada Yesus. Menunggu jawaban keluar dari mulutNya).

Yesus:
Ya, Akulah Dia. Dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Maha Kuasa, di tengah-tengah awan di langit.

(Mendengar jawaban ini, para imam besar, tua-tua Yahudi dan ahli Taurat seakan menemukan apa yang mereka cari selama ini: alasan untuk melenyapkan Yesus. Bahkan Kayafas sampai mengoyak pakaiannya sendiri saking girangnya.)

Kayafas:
( Ekspresi girang ) Kalian dengar sendiri bukan, bagaimana Dia menghujat Allah. Jadi, kita tidak perlu saksi lagi, semua sudah jelas. Nah, bagaimana pendapat kalian semua? Apa yang harus kita lakukan atas diri orang ini?

Hadirin :
(Semua yang hadir serentak berteriak lantang) ” Dia harus dihukum mati!”

Kayafas:
Baiklah, kita sudah mencapai kesepakatan dengan bulat. Sekarang mari kita bawa Dia ke hadapan Pilatus. Kita akan paksa beliau untuk memberikan legitimasi atas apa yang sudah kita putuskan bersama ini. Pengawal, bawa Dia!

(Yesus pun digelandang untuk dibawa ke hadapan Pilatus. Setelah orang banyak pergi, Kayafas menari-nari girang karena yakin Yesus akan mati.)

Fragmen 2. Di hadapan Pilatus
Pemain;
Yesus
Pilatus
Tua-tua Yahudi
Ahli-ahli Taurat
Prajurit Roma

(Setting : ruangan sidang, dimana terdapat Yesus dan Pilatus di dalamnya. Semantara itu para Imam Besar, Tua-tua Yahudi dan ahli Taurat berada di luar karena mereka tidak mau menajiskan diri mereka menjelang perayaan Paskah.)

Pilatus:
(Berjalan mengitari Yesus dengan pandangan penuh selidik seolah hendak mencari sesuatu yg salah dalam diri Yesus, yang masih dalam keadaan terbelenggu.) Engkau inikah raja orang Yahudi? (Yesus diam). Jika Engkau benar-benar seorang raja, mengapa justru kaum dan bangsaMu sendiri yang menyerahkan Engkau kepadaku? Sebenarnya apa yang telah Engkau perbuat?

Yesus:
KerajaanKu bukan dari dunia ini. Sebab jika demikian, maka pasti hamba-hambaKu telah melawan supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi.

Pilatus:
Jadi benar rupanya, Engkau seorang Raja?

Yesus:
Engkaulah yang mengatakan demikian. Untuk itulah Aku lahir dan datang ke dunia, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran. Mereka yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.

Pilatus:
(Dengan nada sinis dan meremehkan). Kebenaran. Apa itu kebenaran?

(Yesus tidak memberikan jawab atas pertanyaan itu. Lalu Pilatus berpaling kepada orang banyak di luar, yang menanti keputusannya)

Pilatus:
Aku tidak mendapatkan satupun kesalahan dalam diri orang itu. Sebenarnya kejahatan apa yang telah Dia lakukan?

Imam Kepala:
Dia telah menyebarkan ajaran yang menyesatkan dan merugikan pemerintah. Dari Galilea ajaranNya telah menyebar sampai ke tempat ini.

(Pilatus terhenyak mendengar jawaban ini dan langsung kembali mendekati Yesus.
Kemudian dia berbicara pada dirinya sendiri):
Jadi Yesus yang mengaku diriNya raja Yahudi ini berasal dari Galilea. Kalau begitu aku akan mengirim Dia kepada Herodes, penguasa Galilea. Biarlah nasib orang ini diputuskan oleh Herodes saja. Buat apa aku repot-repot mengurusi urusan tetek-bengek kaum Yahudi semacam ini. Menyusahkan saja!

(Pilatus kembali ke orang banyak)

Pilatus :
Dia ini orang Galilea, jadi bawalah Dia kepada Herodes penguasa daerah itu. Biarlah Herodes yang akan memutuskan nasib Orang itu.

(Kemudian orang banyak membawa Yesus pergi ke hadapan Herodes.)

Fragmen 3. Monolog Herodes.
Pemain:
Herodes

(Panggung gelap. Lampu sorot mengarah ke satu sisi panggung di mana Herodes tampil membawakan monolog pendek).

Herodes:
Aaghhhh….. setelah aku bertemu dengan Yesus, Orang Nazareth itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku, apalagi untuk menunjukkan kuasaNya yang hebat. Padahal aku sangat ingin melihat mujizat-mujizatNya. Aku sangat kecewa. Akhirnya aku dan pasukanku hanya mengolok-olokan Dia.Tetapi aku juga senang karena dengan peristiwa itu, hubunganku dengan Pilatus yang selama ini kurang harmonis menjadi pulih kembali. Tentang nasib Yesus, apa peduliku? Biarlah orang Yahudi yang menentukannya. Sekarang sebaiknya aku kirim Dia kembali kepada Pilatus.

Fragmen 4. Kembali ke hadapan Pilatus
Pemain:
Yesus
Pilatus
Imam Kepala
Orang banyak
Prajurit Romawi

(Herodes menghilang dari panggung. Lampu panggung menyala. Suasana pengadilan Pilatus kembali dimunculkan. Pilatus nampak gusar dan bingung, saat orang banyak membawa Yesus kembali ke hadapannya)

Pilatus:
(Dengan nada gusar) Aduuuhhh,urusan ini benar-benar membuat kepalaku sakit. Seperti mau pecah rasanya….Aku tidak menemukan kesalahan pada diriNya. Demikian juga Herodes, sehingga dia mengirimkanNya kembali kepadaku. Jadi sebaiknya aku melepaskan Yesus, setelah kusiksa Dia.

(Orang banyak yang mendengar itu menjadi ribut, tidak puas). Salah seorang ahli taurat tampil menyampaikan pendapatnya:

Ahli Taurat:
Jika engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Karena setiap orang yang menganggap dirinya raja, adalah musuh Kaisar!

(Pilatus nampak semakin gusar mendengar pernyataan bernada politis tersebut. Dia kembali mendapatkan Yesus, menatap Dia lekat-lekat seolah hendak mengatakan bahwa dia ingin melepaskan Yesus).

Pilatus:
Yesus, tahukah kamu bahwa aku memiliki kuasa untuk melepaskan kamu dan aku juga berkuasa untuk menyalibkan kamu. Hidup dan matiMu ada di dalam tanganku!

Yesus:
(Menjawab dengan berwibawa) Engkau tidak memiliki kuasa apapun atas diriKu, jika kuasa itu tidak diberikan dari atas.

Pilatus:
(Dengan rasa kesal bercampur gusar, Pilatus kembali menemui orang banyak) Bukankah menurut kebiasaan yang berlaku pada kaum kalian, menjelang perayaan Paskah aku melepaskan seorang hukuman. Jadi biarlah kulepaskan Dia, bagaimana?

Imam Kepala:
Tidak. Jangan Yesus. Lebih baik engkau melepaskan Barabbas untuk kami.

Orang banyak:
(Lantang berteriak) Benar! Lepaskan saja Barabbas, bebaskan Barabbas!

Pilatus:
(Semakin gusar). Lalu apa yang harus aku lakukan terhadap orang yang tidak bersalah itu?

Orang banyak:
(Serempak berteriak) Salibkan Dia! Salibkan Dia! Ia pantas dihukum mati karena Ia telah menganggap diriNya Anak Allah!

(Karena orang banyak semakin keras berteriak agar Yesus disalibkan, akhirnya Pilatus menuruti kemauan mereka karena ketakutannya.)

Pilatus:
Baiklah kalau itu kemauan kalian. Tetapi aku tidak mau mencampuri urusan ini. Nasib orang yang tak bersalah itu kuserahkan pada kalian, semua akibatnya kalianlah yang menanggungnya. Bukan aku. (Pilatus mencuci tangannya sebagai tanda bahwa dia tidak mau dikotori oleh darah Orang Nazareth yang tak berdosa itu).Nah, sekarang kalian boleh membawaNya pergi.

Imam Kepala:
Baik. Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami.

(Yesuspun lalu dibawa keluar untuk disiksa, dihina, dilecehkan sebelum akhirnya disalibkan. Pilatus melepaskan Yesus dengan berat hati, tetapi ketakutan akan kehilangan kekuasaan lebih menguasai dirinya.)

BABAK II
PENYIKSAAN DAN PENYALIBAN

Fragmen 1: Yesus Disiksa
Alternatif :
– Adegan penyiksaan dan penyaliban Yesus dicuplik dari film tentang Yesus.
– Di awal penayangan, seorang narator membacakan narasi dari Yesaya 53.

Narator:
Ia dihina dan dihindari orang. Seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya. Kesengsaraan kitalah yang dipikulnya.

Fragmen 2: Via Dolorosa
– AdeganVia Dolorosa ditampilkan dalam siluet
– Selanjutnya, di sepanjang sisa penayangan adegan tersebut, Mawar Simorangkir membawakan lagu ”Via Dolorosa” dengan iringan orkestra.
– Potongan klip dan lagu berakhir pada adegan yang menunjukkan saat-saat terakhir sebelum Yesus menghembuskan nafas terakhir.
– Barabbas tampil membawakan monolog pendek.

Monolog Barabbas
Barabbas:
(Masuk panggung dengan pandangan mata tertuju ke layar yang menampilkan sosok Yesus yang mendekati ajalNya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda heran):
Benar-benar sulit dimengerti. Rupanya ada juga orang yang mau dan rela mati untuk seorang pendosa seperti aku. Ya, orang itu, Yesus dari Nazareth, telah menggantikan tempatku. Padahal aku sama sekali tidak punya harapan untuk menghirup udara bebas setelah apa yang kuperbuat terhadap pemerintah pendudukan Romawi. Ternyata, orang banyak lebih memilih aku bebas dan Yesus yang disalibkan, menggantikan aku. Entah kesalahan apa yang telah dilakukanNya, padahal ketika kutatap mataNya aku tahu bahwa sepanjang hidupNya, Orang itu tidak pernah berbuat dosa.
Aku tak mengerti. Dia rela menggantikan posisiku. Paku yang seharusnya dipakukan ke tanganku, kini melukai tanganNya. Tulisan di atas kepalaNya berbunyi ”Inilah Raja Orang Yahudi”, padahal seharusnya bertuliskan ”Inilah Barabbas, Raja Para Pendosa”…..

(Babak ini ditutup dengan penayangan adegan saat Yesus, dari puncak salib di Golgota, mengucapkan kalimat terakhirNya: ”Sudah selesai” kemudian menyerahkan nyawaNya.)

BABAK III
KEBANGKITAN – PENAMPAKAN YESUS

Fragmen 1: Kembali menjadi penjala ikan
Pemain:
Petrus
Thomas
Andreas
Malaikat

(Setting: Di sudut kiri panggung, nampak tiga orang murid Yesus yaitu Petrus, Thomas dan Andreas sedang duduk termenung-menung. Mereka nampak putus harapan karena kematian Guru Agung mereka beberapa hari sebelumnya. Beberapa kali nampak mereka menarik nafas panjang seolah ingin melepaskan beban berat yang menyesakkan dada mereka.)

Thomas:
(Berdiri dengan lesu, melepaskan pandangan pada dua orang murid yang lain. Kemudian menatap kosong jauh ke depan) sekarang, apa yang akan kita lakukan untuk hari-hari ke depan? Kita tidak bisa terus-terusan meratapi kematian Guru kita seperti ini…..

Andreas:
(Menarik nafas panjang). Aku sendiri juga bingung….aku tidak tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini…aku merasa seperti ditinggalkan oleh orang yang begitu dekat, yang begitu kuhormati dan kukagumi. Tidak kusangka, hanya seperti ini akhirnya…..hmmmmhh (kembali menarik nafas panjang).

Petrus:
(Sambil memeriksa jala ikan) Yang sudah terjadi biar terjadi. Yang sudah mati tidak akan kembali lagi. (mengemasi jala lalu bangkit berdiri). Aku tidak mau seperti ini terus…nggak produktif! Aku mau pergi menjala ikan, terserah kalian…mau ikut boleh, tidak ya terserah! (Lalu pergi meninggalkan dua murid lain yang saling berpandangan)

Thomas:
Petrus, tunggu, aku ikut denganmu mencari ikan…!

Andreas:
Aku idem! Daripada di sini sendirian, ntar malah kesambet lagi….

(Sementara mereka bertiga terlibat pembicaraan itu, tanpa mereka ketahui seorang Malaikat mengamati dan menyimak pembicaraan tersebut dari sudut panggung yang lain.)

Malaikat:
Benar-benar memprihatinkan. Tiga tahun lebih mereka bersama dengan Yesus, tetapi tetap saja tidak bisa mempercayai sepenuhnya ucapan Yesus. Berkali-kali Yesus berkata bahwa Ia akan bangkit kembali setelah tiga hari kematianNya, mengapa mereka masih saja tidak percaya?
Sekarang mereka malah kembali ke profesi lama mereka, menjala ikan….padahal Yesus telah menetapkan mereka menjadi penjala manusia. Hmm, dasar manusia! Kalau saja mereka tahu, bahwa aku baru saja mendapat instruksi khusus dari bosku, untuk menggulingkan batu penutup kubur Yesus yang telah kosong, agar semua orang tahu bahwa Yesus telah benar-benar bangkit..tapi ya sudahlah! Aku harus pergi melaksanakan perintah Bos-ku…!!

Fragmen 2: Berita Kebangkitan Kepada Tiga Perempuan Yang Berziarah
Pemain:
Perempuan 1
Perempuan 2
Perempuan 3
Malaikat

(Setting: Gua tempat kubur Yesus. Terjadi gempa dahsyat di kubur itu ketika Malaikat Tuhan turun dan menggulingkan batu penutup kubur itu. Prajurit Romawi yang menjaga kubur itu lari ketakutan).

(Kemudian muncul tiga orang perempuan menuju kubur itu untuk merempah-rempahi jasad Yesus.
Mereka terlibat obrolan.)

Perempuan 1:
Eh, ngomong-ngomong nih, kan kubur Yesus ditutup batu besar, nanti bagaimana kita masuk. Sepertinya kekuatan kita bertiga tidak cukup untuk menggulingkan batu itu….

Perempuan 2:
Iya juga ya….bagaimana dong? Atau kita kembali saja ke kota dan meminta bantuan beberapa orang murid Yesus untuk menemani sekaligus menolong menggeser batu itu?

Perempuan 3:
Ahhh, nggak usah, percuma…mereka terlalu sedih untuk mau diajak ziarah ke kubur Guru mereka. Sudahlah, kita lihat saja nanti apa yang bisa kita lakukan…

(Sesampai di mulut kubur itu, mereka terkejut karena batu penutup kubur Yesus telah terguling. Seorang Malaikat duduk di dekat mulut gua dengan pakaian bersinar-sinar. Malaikat itu tersenyum kepada ketiga perempuan yang masih kaget bercampur takut itu)

Malaikat:
Jangan takut. Kamu mencari Yesus orang Nazaret yang disalibkan itu, tetapi Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit. Lihatlah sendiri tempat di mana Ia dibaringkan, Ia tidak ada lagi di sana.

(Ketiga perempuan itu masuk ke dalam dan mendapati keadaan kubur seperti yang diberitakan Malaikat tadi)

Malaikat:
Sekarang, pergilah dan sampaikan pesan ini kepada murid-murid Yesus bahwa Guru mereka telah menanti kedatangan mereka di Galilea. Di sanalah kamu semua akan melihat Dia yang telah bangkit.

(Ketiga perempuan itu segera meninggalkan tempat itu sambil berlari-lari dengan perasaan gentar dan takut berbaur menjadi satu).

Fragmen 3: Yesus Hadir di tengah Para Murid – Thomas Percaya
Pemain:
Yesus
11 orang murid

(Setting: Di suatu ruangan, para murid duduk. Mereka terlibat pembicaraan seru seputar Yesus yang menampakkan diri kepada mereka. Thomas, nampak tidak begitu antusias mengikuti pembicaraan tersebut)

Thomas:
Begini ya saudara-saudara, apapun yang kalian katakan bahwa Yesus telah bangkit dan menampakkan diri kepada kalian, aku tidak akan percaya. Tidak, sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dan mencucukkan jariku ke bekas lubang paku dan luka tikaman di lambung Yesus. Jadi, berhentilah membual……

(Tiba-tiba Yesus telah berada di antara mereka dan mengucapkan salam)

Yesus:
Damai sejahtera bagimu.

(Semua murid langsung menyembah, kecuali Thomas yang masih diam terpaku sambil ternganga. Yesus mendekati Thomas)

Yesus:
Thomas, mari mendekatlah. Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu. Ulurkanlah tanganmu dan cucukkanlah ke dalam luka di lambungKu.

(Dengan gemetar Thomas meraba dan mencucukkan tangannya. Semua murid memperhatikan penuh seksama. Setelah itu, Thomas bersujud di kaki Yesus, menangis).

Yesus:
(Sambil membantu Thomas untuk berdiri dan memegang kedua pundaknya) Sekarang percayakah engkau bahwa Aku telah benar-benar bangkit?

Thomas:
(Mengangguk pasti) Ya Tuhanku, sekarang aku percaya.

Yesus:
Karena engkau telah melihat Aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, tapi percaya.

(Lampu meredup. Semua aktor dalam keadaan freeze).

BABAK IV
AMANAT AGUNG & KENAIKAN KE SURGA

Narator:
Kebangkitan Yesus dirasakan secara nyata oleh murid-muridNya, termasuk Thomas yang sempat tidak percaya. Kebangkitan Yesus membuat mereka percaya dan termotivasi untuk pergi melanjutkan karya terbesar yang telah Yesus kerjakan.
Tetapi Ia tidak dapat berlama-lama bersama mereka, karena dunia bukanlah tempatNya. Anak Manusia harus kembali ke rumah BapaNya, menyediakan tempat bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Pemain:
Yesus
11 murid (tanpa Yudas Iskariot)

(Setting: Di bukit Zaitun, Yesus sedang duduk sendirian menantikan kedatangan para muridNya sesuai pesan yang Ia sampaikan kepada Maria Magdalena. Tak lama kemudian kesebelas orang muridNya datang. Begitu melihat Yesus, beberapa orang murid langsung menyembahNya, sementara yang lain nampak ragu-ragu. Yesus bangkit mendekati mereka.)

Yesus:
(Sambil memegang pundak beberapa dari mereka) KepadaKu telah diberikan segala kuasa, baik di sorga maupun di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, bahwa Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman.

Petrus:
(Dengan nada penuh harap) Jikalau demikian Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?

Yesus:
Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya.
Tetapi kamu semua harus menunggu di Yerusalem sampai kalian menerima kuasa, ketika Roh Kudus turun ke atas kamu. Selanjutnya, kamu semua akan menjadi saksi-saksiKu, di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan bahkan sampai ke ujung bumi.

(Sesudah berkata demikian, Yesus terangkat ke sorga dengan disaksikan oleh para murid. Sambil terangkat ke sorga, Yesus mengulurkan tangan memberkati mereka. Semua murid menyaksikan Yesus yang terus terangkat ke sorga sampai menghilang di balik awan-awan).

(Setelah Yesus benar-benar lenyap dari pandangan mereka, para murid terlibat dalam pembicaraan tentang apa yang baru saja mereka alami bersama-sama).

Matius:
Saudaraku, kita telah mendengar sendiri bahwa Guru Agung kita telah memberikan kepada kita amanat untuk menjadikan segala bangsa muridNya. Ini adalah tugas yang sangat mulia bukan!?

Yohanes:
Benar sekali, Matius. Dan tidak itu saja, Yesus bahkan memberikan otoritas kepada kita untuk membaptiskan mereka dalam nama Bapa Anak dan Roh Kudus. Nampak jelas betapa kita sangat dipercaya oleh Tuhan kita.

Andreas:
Aku bangga bahwa Tuhan kita amat peduli akan keterbatasan kita, yang membuat kita tak akan mampu melakukan itu semua, kecuali jika kita beroleh kuasa. Dan Yesus telah menjanjikan Roh Kudus untuk mencurahkan kuasa bagi kita.

Bartolomeus:
Yang tidak kalah pentingnya, saudaraku, Yesus naik ke sorga sambil terus mencurahkan berkatNya atas kita, berkat yang mengalir dari tanganNya yang berlobang paku. Oh, betapa Dia adalah Tuhan sumber segala berkat….

Yakobus:
Baiklah, saudara-saudaraku, mari kita pergi dari sini. Kita harus ke Yerusalem seperti perintah Guru kita, untuk berdoa dan bersehati dengan tekun, sambil menunggu datangnya Roh Kudus yang dijanjikan. Ayo, kita berangkat.

BABAK V
ANUGERAH DI BALIK KEBANGKITAN

Part 1
(Pdt. Andreas Soestono masuk didampingi anak-anak dari kedua yayasan kemudian membacakan narasi dalam bentuk point-point penting (yg akan dikembangkan sendiri oleh Pdt. Andreas Soestono) sebagai pengantar fund-raising. Layar multimedia menampilkan animasi. Musik memainkan intro lagu ”Mereka Perlukan”.)

Part 2
Selama pengisian formulir, akan diiringi lagu Mereka Perlukan. Klip menayangkan potongan-potongan gambar orang-orang yang mewakili kaum yang terhilang, yang belum mengenal dan menerima Yesus Kristus Mesias sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamatnya.

Part 3
Pengumpulan janji iman (fund raising) dipimpin Pdt. Andreas Soestono dan diiringi dengan lagu I will Follow Him/O Happy Day. (Artis: Joy Tobing –Franky Sihombing)
Multimedia menampilkan teks lagu.

Part 4
Closing dari Pdt.Andreas utk mendoakan persembahan.

-TAMAT-

Jakarta, 20 Maret 2006

PEREMPUAN YANG TURUT MENYALIBKAN YESUS (Sebuah Pengakuan Dosa)

Judul asli: One in a Crowd
Oleh: Teresa Furnish (1999)
Disadur oleh: Teguh T. (2004)

Masuk ke panggung dengan langkah pelan, kepala tertunduk. Suaranya menyiratkan penyesalan, sekaligus pembelaan diri)
Aku baru saja membantu menyalibkan seorang yang tak berdosa. Aku tidak begitu tahu bagaimana ini bisa terjadi. Aku ada di tempat itu bersama tetanggaku untuk melihat apakah benar Yesus Kristus akan dilepaskan oleh Pilatus. Kami tidak memiliki alasan untuk menginginkan Dia mati. Kami kira Pilatuspun demikian. Yesus bukanlah ancaman untuknya. Tetapi imam-imam kepala itulah yang menginginkan Dia mati. Yesus telah menyinggung hati mereka tapi asal tahu saja, mereka itu, eeh, mereka itu gampang sekali merasa tersinggung. Cuma gara-gara salah memakai terompah ke sinagoga saja bisa membuat imam kepala marah besar. Tetapi Yesus, Dia melakukan jauh melebihi sekedar salah memilih terompah. Hal-hal yang Yesus lakukan, ya, kami menyaksikan itu semua. Dia menyembuhkan banyak orang sakit. Ia memulihkan kaki-kaki yang lumpuh. Tetanggaku bahkan menyaksikan Yesus mengusir setan. Menurut ceritanya, Yesus hanya berdiri dan mengucap sesuatu dan setan-setan itu mematuhinya. Dia mengajar banyak hal baru yang tidak pernah kami dengar sebelumnya. Para imam kepala mengatakan bahwa makan dengan tangan yang tidak bersih membuat kita najis, tetapi Yesus berkata bukanlah apa yang ada di tangan kita yang membuat najis, tetapi apa yang keluar dari mulut kita.

Jadi sebenarnya, aku tidak bermaksud jahat. Tetapi memang aku ada di sana. Para imam kepala dan tua-tua berdiri mengelilingi kami dan menegaskan kepada kami pesan ini: Jika Pilatus bertanya apa yang dia harus lakukan terhadap Yesus, kalian harus menjawab “Salibkan Dia”. Dan kami lakukan pesan mereka. Aku lakukan perintah mereka. Ketika Pilatus bertanya, ”Mengapa? Kesalahan apa yang telah dilakukan orang ini?” kami membalas dengan teriakan lebih keras “Salibkan Dia!” Aku memang hanya ikut-ikutan dan lagipula aku ini hanya perempuan biasa yang lemah, apa dayaku untuk menentang keinginan para imam kepala dan tua-tua Farisi?

Tetapi setelah itu, aku berada cukup dekat dengan kayu salib dan aku dengar sendiri Yesus berkata kepada seorang pencuri yang disalib bersamaNya bahwa hari itu juga mereka akan bersama-sama di Firdaus. Aku dengar Dia berucap,” Bapa, ampuni mereka.” Ampuni mereka? Mengampuni aku? Aku berada dekat salib ketika kegelapan datang menyelimuti. Lalu aku mendengar Yesus mengucapkan “Sudah selesai,” lalu Ia menghembuskan nafas terakhir dan semuanya menjadi gelap. Para serdadu Romawi juga mendengar kata-kata itu. Salah seorang dari mereka berkata,”Orang ini pastilah Anak Tuhan.” Sekarang, aku tahu itu.

Kupikir aku tidak akan mampu lagi bertemu muka dengan salah satu pengikutNya, atau bahkan menjadi salah satu pengikutNya, setelah apa yang aku lakukan ini. Tetapi, beberapa wanita di makam itu….eh, sebenarnya aku tidak berharap samasekali mereka akan melihatku apalagi menyapaku. Aku sedang iseng-iseng berjalan disekitar makam itu ketika salah satu dari mereka melihatku. Dia mengajakku untuk duduk bersama mereka. Mulanya, aku menolak, tetapi dia begitu ramah.

Duduk ditengah mereka, aku tidak dapat menahan diri. Aku menangis dan mengakui bahwa aku tidak melakukan sesuatu untuk melepaskan Yesus, bahwa aku adalah satu di antara perempuan yang berteriak salibkan Dia. Aku kira mereka akan marah dan mengusirku, tetapi salah satu dari mereka mengulurkan tangan kepadaku dan dengan lembut berkata bahwa Yesus mengasihiku. Dia akan mengampuniku. Aku tahu bahwa Dia adalah Putera Tuhan dan Dia telah mengampuni aku dan semua orang yang berteriak “Salibkan Dia”. (Dengan suara tegas dan mantap) Aku tahu bahwa Dia telah bangkit hari ini. Jika aku tinggal bersama dengan para pengikutNya, mungkin aku akan berkesempatan untuk melihat Dia. Dan mendengar Dia berkata bahwa Ia mengasihiku. Dia mengasihi kita semua.

Naskah Monolog “Yudas”

Naskah monolog ini bertutur tentang pergulatan seorang Yudas Iskariot, salah satu pengikut Yesus yang tergiur dengan uang sehingga mengkhianati gurunya itu dan menyerahkanNya kepada penguasa Romawi. Akhir hidupnya sungguh tragis…
TANGAN YANG TERNODA DARAH(Monolog Yudas Iskariot)

Panggung gelap.

Yudas Iskariot masuk dengan langkah lesu, wajah tertunduk. Di tangannya menggengam sekotak uang perak. Ia jatuh terduduk dan menangis sesenggukan.

Kenapa begini jadinya? Mengapa Yesus harus disiksa dan disalibkan….padahal bukan seperti itu yang mereka janjikan. Kayafas menjamin bahwa Yesus hanya akan ditangkap lalu dipenjara sampai situasi mereda dan ingatan rakyat terhadapnya telah hilang, dan Ia akan kembali dilepaskan.

Tapi apa kenyataannya? Dasar Imam Agung Pembohong! Imam Agung yang sama sekali tidak agung! Kalian malahan menyiksa habis-habisan orang yang kukasihi itu, bahkan kalian menjatuhkan hukuman mati kepadanya tanpa pengadilan yang layak…. Oohhh, mengapa seperti ini jadinya….aku tidak pernah menyangka akan seperti ini…

(Membuka kotak dan mengeluarkan uang perak) Tiga puluh keping perak…harga yang kutawarkan untuk Orang Yang Tidak Berdosa, yaitu Guruku, sahabatku, Tuhanku..sungguh sangat tidak sepadan…mereka merampas nyawa Guruku hanya dengan tigapuluh keping perak….nyawa Tuhanku tidak dapat dibayar oleh apapun juga!!.(melemparkan kotak berisi uang perak)

Semuanya sudah terjadi…Yesus-ku telah mati, kedua tanganku telah terpercik oleh darah suci, darah yang tidak selayaknya tercurah…DIA tidak sepantasnya mati dengan cara seperti itu…INI SEMUA SALAHKU?

Bagaimana harus kuhapus noda darah di tanganku ini?? Noda ini tak akan hilang begitu saja meski aku mencucinya berulang-ulang…noda ini akan terus mengikutiku, menghantuiku… menuduhku…

(Menangis sesenggukan)…

Tetapi noda ini harus kuhilangkan…seterusnya….selamanya…agar tidak menghantuiku dengan rasa bersalah yang tak tertanggungkan…

(Di panggung muncul gambar siluet pohon dengan seutas tali gantungan di salah satu dahannya)

(Melihat ke arah pohon) Aku tahu bagaimana noda ini dapat terhapus selamanya dari kedua tanganku…cara yang menyakitkan…tetapi harus aku jalani…HARUS! Sebab aku memang layak menjalani kesakitan ini, tetapi Yesus, DIA tidak layak untuk mati!

18032008

Catatan:
Yudas Iskariot dapat ditampilkan sebagai sosok pria dengan dandanan jaman sekarang, sebagai gambaran bahwa sampai saat inipun masih banyak dijumpai Yudas Iskariot modern, yang rela menjual imannya atau mengkhianati Yesus demi kesenangan duniawi.

Naskah Monolog “Barabas”

Naskah ini menggambarkan pergulatan batin Barabas, narapidana yang dibebaskan penguasa Romawi sebagai ganti untuk Yesus yang dijatuhi hukuman mati atas desakan massa Yahudi.

BARABBAS –Kesaksian Mantan Narapidana

(Masuk ke panggung sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah lukisan yang dibawanya lalu ditaruh di sebuah tempat di tengah panggung. Dibawah lengannya, ia mengapit segulung poster).

Aku masih tidak percaya hal ini. Sulit dimengerti? Mengapa Ia sampai melakukan itu? Mengapa Ia mau menggantikan tempatku? (Menggeleng kepala lagi) Sunguh tidak masuk akal!

Kurasa, lebih baik aku memperkenalkan diri dulu. Namaku Barabbas. Anda semua tentu sudah mengenalku, yaa.. setidaknya melalui poster “DICARI” yang terpasang hampir di seluruh pojok kota ini (Memperlihatkan poster yang diapitnya)

(Dengan agak sombong) Aku sebenarnya bukanlah yang paling populer dalam hal ini. Aku dan kawananku agak jarang berbuat sadis, sebenarnya. Mungkin Anda pernah dengar kerusuhan di Yerikho, ketika sekelompok orang menggelar unjuk rasa menentang pendudukan Romawi dan berakhir dengan kerusuhan. Yah, dalam peristiwa itu akulah penggerak massa, istilah kerennya Korlap, koordinator lapangan..

Jalanan yang menghubungkan Yerusalem dan Yerikho tidak pernah menjadi tempat yang aman untuk dilalui, ya semenjak aku dan gerombolanku berdiam di sekitar wilayah itu. Maaf maaf saja, tapi memang kamilah yang bertanggung jawab atas beberapa peristiwa pembegalan di sepanjang jalan itu. Membunuh orang? Ya pernah sih, sekali dua kali saja. Sekedar gagah-gagahanlah! Tapi kami selektif dalam mencari sasaran yaitu orang-orang yang mendukung pemerintah pendudukan Romawi, hanya saja kadang…..(terhenti, seolah tidak mampu melanjutkan pembelaan dirinya).

Makanya tidaklah mengejutkan kalau aku dan dua orang kawananku akhirnya tertangkap. Orang-orang itu melemparkan dakwaan sambil membolak-balik kitab-kitab tebal di depan muka kami dan berkata bahwa kami pantas menerima hukuman terberat yang ada di benak mereka. Dan mereka menjatuhi kami dengan hukuman salib sampai mati, sebuah kematian yang lambat dan menyakitkan. Bayangkan, sebuah paku besar dihunjamkan ke tiap telapak tangan yang direnggangkan, satu paku ditusukkan ke kaki, lalu dibiarkan tergantung sampai akhirnya….yach, tak perlu diteruskan, Anda pasti sudah tahu.

Semuanya sudah diatur sedemikian rupa bahwa eksekusi akan dilaksanakan tepat sebelum Paskah. Aku tahu kenapa, karena semua orang akan berada di kota dan itu menjadi momen yang tepat buat penguasa Romawi untuk menunjukkan apa hukuman bagi pemberontak seperti kami.

Nah, pada hari pelaksanaan eksekusi itu kami bertiga dikurung di dalam sel yang terletak di dekat istana Pilatus. Saat kami di sana, tiba-tiba prajurit datang dan melemparkan seorang tahanan baru ke dalam sel kami. Aku amati nampaknya ia telah mengalami siksaan berat, sekujur badannya penuh luka dan darah. Aku dengar para prajurit yang melakukan penyiksaan itu. Buatku sih tidak mengagetkan sama sekali. Kalian lihat kakiku yang pincang dan mataku yang tinggal sebelah ini, itu semua hasil karya para prajurit Romawi sialan itu. Tapi sudahlah, ini risiko profesi.

Hmm. Memang agak ironis tetapi lelaki itu dituduh telah memimpin gerakan perlawanan sama seperti aku dulu, tetapi dia samasekali tidak seperti aku. Ini serius, hanya dengan menatap wajahnya aku bisa tahu bahwa dia tidak pernah melakukan suatu kesalahanpun. Mustahil nampaknya orang seperti Dia bisa melakukan hal-hal busuk seperti yang kuperbuat.

Dan, yang luar biasa adalah dia tidak mengucap sepatah katapun untuk membela diri, seolah dia sudah pasrah menerima apapun yang akan menimpanya.

Aku sudah mendengar teriakan dan hujatan orang-orang di luar. Akupun jadi tergoda dan mulai melontarkan ejekan “Jika engkau benar-benar Anak Tuhan, Engkau kan bisa membebaskan dirimu lalu kabur dari tempat ini? Kalau engkau kabur, kami kan bisa ikutan lari bersamamu hehehehe,” celotehku. Tapi Dia tidak merespon sama sekali dan aku merasa tidak enak untuk meneruskannya.

Nampaknya lelaki itu telah menimbulkan kegalauan pada diri Pilatus maupun Herodes, sebab keduanya tidak yakin apa sebenarnya kesalahan yang dilakukan orang itu. Akan tetapi orang banyak dan yang tentu saja kaum Farisi tidak akan membiarkannya bebas begitu saja.

Oya, sebelumnya aku sempat mendengar gemuruh teriakan orang banyak yang berkata “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” Haa, Anda pasti berpikir bahwa yang dimaksud itu adalah aku, bukan dia.

Dan pada akhirnya, baik aku dan orang itu digiring keluar dan dibawa ke hadapan orang banyak. Memang sudah menjadi kebiasaan Pilatus bahwa di kesempatan-kesempatan tertentu dia melepaskan seorang narapidana yang dipilih orang banyak, dan Pilatus menginginkan orang banyak itu memilih salah satu di antara kami berdua.

Yaach, aku sih merasa bahwa saat itu sebenarnya tidak ada peluang untuk aku dipilih. Bagaimana mungkin mereka akan memilih seseorang yang nantinya akan kembali menebar teror di wilayah itu dan kukira itu jugalah yang dipikirkan oleh Pilatus. Namun, ketika Pilatus bertanya, “ Siapa di antara kedua orang ini yang kalian inginkan untuk aku lepaskan?” secara serempak orang banyak itu berteriak “Barabbas! Barabbas! Kami mau Barabbas dilepaskan!” Hah! Aku hampir terjengkang saking kagetnya, sungguh sulit dipercaya, benarkah yang kudengar? Orang Betawi bilang: Sumpeh lu?! Eeh, maksudku begini, sudah gamblang bin jelas siapa yang bersalah dan sudah pasti itu bukan Dia.

Lalu Pilatus bertanya lagi kepada orang banyak ,”Jika demikian, apa yang harus aku lakukan terhadap orang yang kalian sebut Raja Orang Yahudi ini?”

“Salibkan Dia!” mereka serempak menjawab dengan keyakinan yang tak terbantahkan.

Maka, demikianlah. Sekarang aku bebas. Dan yang tergantung mati di kayu salib diantara kedua rekanku adalah orang ini. Dia disana, di tempatku. Paku-paku yang seharusnya dipakukan ke tangan dan kakiku telah dipakukan ke tangan dan kakiNya. Dan sebuah tulisan dipasang di atas kepalaNya berbunyi”Inilah Raja Orang Yahudi” padahal semestinya tulisan itu berbunyi “Inilah Raja Para Begal”.

Aku tidak mengerti dan sepertinya aku tidak akan biss mengerti. Ini sangat tidak adil, tetapi orang ini, Yesus, dia telah mati menggantikan aku.